Budaya Nusantara Dan Penguatan Ormas

Peristiwa80 Dilihat

CMNnews-INDONESIA
citramedianusantara.com

Oleh : AM.Juma’i*

SEMARANG-Di Indonesia sendiri sangat banyak suku dan budaya maka dari itu kita sebagai warga negara Indonesia patut nya melestarikan budaya tersebut. Wawasan nusantara adalah hal yang sangat penting untuk kita pelajari karna mencakup banyak sekali kebudayaan karena pada dasarnya setiap manusia yang dilahirkan dan dibesarkan dengan budaya yang beragam macam bentuk nya.
Wawasan nusantara adalah bagimana cara pandang bangsa ini terhadap rakat — rakyat nya fungsi dari wawasan nusantara sendiri ialah sebagai pedoman motivasi ,dan dorongan yang dimana semua itulah yang akan menjadi tindakan dan perbuatan. Di dalam melestarika wawasan nusantara siapa pun harus terlibat demi kepentingan Bersama, maka dari itu wawasan nusantara dikenal sebagai suatu keutuhan dan kesatuan bangsa dan wilayah.

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Wawasan nusantara adalah bagimana cara pandang bangsa ini terhadap rakat — rakyat nya fungsi dari wawasan nusantara sendiri ialah sebagai pedoman motivasi ,dan dorongan yang dimana semua itulah yang akan menjadi tindakan dan perbuatan. Di dalam melestarika wawasan nusantara siapa pun harus terlibat demi kepentingan Bersama, maka dari itu wawasan nusantara dikenal sebagai suatu keutuhan dan kesatuan bangsa dan wilayah
Pada hakikat nya kebudayaan merupakan warisan turun temurun yang bersifat memaksa,bagi yang bersangkutan namun sebalik nya jika nilai-nilai budaya sudah mulai pudar atau mulai di tinggalkan maka masyarakat akan di pengaruhi dengan budaya luar.

Memahami karakter budaya di sekitar adalah hal yang sangat penting karena memerlukan rasa empati dan saling menghargai dengan budaya masing-masing,semua suku budaya mempunyai porsi yang sama untuk memperkenlkan budaya mereka pada orang lain, entah itu dari cara berpakaian,tarian adat,alat musik tradisional,atau pun bahasa daerah tertentu.

 

Melestarikan Wawasan BudayaNusantara

Kebudayaan dan masyarakat merupakan dua hal yang saling terikat sama seperti kopi dan gula, mereka tidak bisa di pisakan,karena Indonesia merupakan negara yang paling banyak dikenal dengan keberagaman budaya nusantara yang tidak banyak di jumpai di negara mana pun.

Pada dasarnya kebudayaan di Indonesia sendiri kurang diketahui dan di kembangkan oleh warganya,melainkan negaa asinglah yang lebih mengenal kebudayaan di Indonesia begitu juga sebaliknyya warga Indonesia lebih mengikuti kebudayaan negara asing dibandingkan dengan kebudayaan negara sendiri.

Terlepas dari masalah di atas sebenar nya banyak cara untuk melestarikan kebudayaan nusantara, seperti meningkatkan kehidupan bangsa yang sejahtera, mengadakan pengembangan wawasan serta membangkitkan rasa ingin tahu dari anak muda,dengan begitu nantinya akan membantu melestarikan wawasan nusantara yang semakin meningkat.

Yang paling penting untuk membantu melestarikan wawasan budaya dengan menanamkan rasa kesadaran akan pentingnya melestarikan selain itu menimbulkan rasa cinta terhadap budaya yang ada dengan begitu orang sekitar akan terrmotivasi dengan hal tersebut, karena pada dasarnya kebudayaan merupakan warisan turun temurun jadi pastinya memerlukan pewaris kebudayaan.

Kota Semarang Sebagai Kota Harmoni

Masyarakat Kota Semarang patut bangga bahwa Kota semarang dinobatkan sebagai Kota Harmony oleh Kementerian Agama RI dan Yayasan Setara .Hal ini wajar didapatkan karena Kota semarang memilki potensi sangat besar menyatu dan berbaur di Kota Semarang secara nyaman dan aman.
Berbagai latar belakang Agama,Ras, Suku, Etnis , Profesi dan lintas hobi sangat terakomodir dengan baik di Kota Semarang. Sehingga dari keadaan ini membuat daya tarik dan daya pikat investor dan pelaku usaha nyaman berusaha di Kota Semarang.
Hal ini juga Pemerintah Kota Semarang sangat mengakomodir komunitas komunitas di Kota Semarang dengan lembaga lembaga yang ada ; seperti : Majelis Ulama Indonesia ( MUI ), Forum Kerukunan Umat Beragama ( FKUB), Forum Komunikasi Ormas Semarang Bersatu ( FKSB), Forum Pembauran Kebangsaan ( FPK ) dan komunitas lainnya yang masih banyak. Artinya suasana nyaman ,kondusif dan tenteram di Kota semarang ini harus dipertahankan.

Untuk hal tersebut pengembangan seni dan budaya lintas Ormas, lintas Agama dan lintas etnis perlu diberikan panggung untuk mengekspresikan diri dalam kebersamaan di Kota Semarang dalam bentuk Gelar Seni Budaya dan Orasi Kebangsaan Forum Komunikasi Ormas Semarang Bersatu Kota Semarang .

Bentuk Budaya Nusantara di Kota Semarang

Budaya Nusantara merupakan keberagaman bentuk kesenian yang muncul dan berkembang di tiap-tiap wilayah yang ada di Indonesia dari Sabang sampai Merauke. Tumbuh dan berkembangnya kesenian di Nusantara ini dari hasil ragam budaya yang berkembang berdasarkan adat istiadat di daerah tersebut. Budaya Nusantara terdiri dari Wayang Kulit, Angklung, Keris, Batik, Tari-tarian, dan masih banyak lagi. Fungsi seni budaya yang ada di Indonesia mencakup fungsi religi, pendidikan, dan terapan. Maka dari itu kita sebagai masyarakat negara Indonesia harus ikut turut menjaga kebudayaan-kebudayaan dari negara kita sendiri. Dengan begituh, kebudayaan kita dapat tetap terjaga dan dapat kita banggakan kepada generasi-generasi muda Indonesia.
Wilayah Semarang memiliki tradisi yang masih lestari hingga saat ini. Tradisi tersebut berlangsung di Kota Semarang dan Kabupaten Semarang, Jawa Tengah. Kemeriahan pelaksanaan tradisi selalu dinantikan oleh masyarakat.

Tradisi di Semarang dan Tujuannya

1. Dugderan
Dugderan adalah tradisi yang dilakukan setiap menjelang datangnya bulan suci Ramadan di Kota Semarang.
Acara Dugderan berlangsung meriah yang dilakukan masyarakat Semarang yang didukung pemerintah setempat. Tradisi Dugderan merupakan cerminan dari perpaduan tiga etnis masyarakat Semarang, yaitu Jawa, Tionghoa, dan Arab. Dugderan berasal dari kata dug, yakni bunyi bedug yang ditabuh, dan der yang merupakan bunyi tembakan meriam. Pelaksaan tradisi dilakukan sehari menjelang Ramadan. Bedug Masjid Besar Kauman dipukul dan disusul dengan penyulutan meriam di halaman pendapa kabupaten di Kanjengan, Semarang. Baca juga: Dugderan, Tradisi Unik Kota Semarang Sambut Bulan Ramadhan Dalam tradisi Dugderan terdapat ikon yang berupa “Warak Ngendog” sebagai wujud hewan berkaki empat (kambing) dan kepala mirip naga.
Warak Ngendhog tersebut memperlihatkan perpaduan budaya Arab, Jawa, dan Tionghoa. Diperkirakan, tradisi Dugderan telah berlangsung sejak 1881 sejak Semarang dipimpin oleh Bupati RMTA Purbaningrat. Tujuan Dugderan adalah penentuan awal puasa, karena adanya perbedaan pendapat penentuan awal puasa saat itu. Prosesi Dugderan adalah pasar malam dugderan, ritual pengumuman awal puasa, dan kirab budaya Warak Ngendog. Rute kirab dari Balai Kota Semarang, Masjid Agung Kota Semarang, dan Masjid Agung Jawa Tengah.

2. Popokan
Popokan adalah tradisi di Desa Sendang, Kelurahan Sendang, Kecamatan Bringin, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah. Tradisi Popokan atau perang lumpur merupakan wujud rasa syukur khususnya petani Desa Sendang kepada Tuhan Yang Maha Esa atas hasil panen yang diperoleh. Tujuan tradisi Popokan adalah memohon keberkahan dan keselamatan bagi masyarakat setempat khususnya pada petani.
Prosesi tradisi popokan terdiri dari bersih sendang, tumpengan, kirab budaya sedekah desa, dan popokan (perang lumpur).
Keberadaan tradisi Popokan terkait dengan mata pencaharian mayorita masyarakat Desa Sendang adalah pertanian, khususnya padi dan palawija. Di sekitar desa dikelilingi persawahan dan tegalan.

3. Sesaji Rewanda
Sesaji Rewanda berasal dari dua kata dalam bahasa Jawa, yakni sesaji yang berarti persembahan yang berhubungan dengan agama, dan rewanda yang berarti kera. Untuk itu, Sesaji Rewanda berarti pemberian makanan sebagai persembahan atau penghormatan kepada kera yang menghuni hutan di sekeliling Goa Kreo di Kota Semarang. Ritual Sesaji Rewanda dilakukan pada 1 Syawal atau hari ketiga hari raya Idul Fitri. Tradisi tersebut dilakukan oleh masyarakat Kandri, Kecamatan Gunungpati, Kota Semarang, Jawa Tengah. Proses tradisi Sesaji Rewanda dilakukan dengan arak-arakan mengusung empat gunungan buah-buahan dan hasil bumi. Rute arak-arakan dari Kampung Kandri ke Goa Kreo. Dalam barisan arak-arak tersebut terdapat empat orang dengan riasan kostum monyet dengan warna merah, putih, kuning, dan hijau. Barisan kedua berupa replika batang kayu yang konon diambil oleh Sunan Kalijaga.
Tradisi itu merupakan napak tilas Sunan Kalijaga saat mencari kayu jati pilihan di sekitar Goa Kreo, yang dihuni banyak monyet ekor panjang. Tradisi itu ditandai dengan sesaji gunungan buah-buahan untuk diberikan kepada monyet ekor panjang.
Tujuan Sesaji Rewanda adalah melestarikan tradisi, wujud syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan keselamatan. Cerita rakyat Goa Kreo Tradisi Sesaji Rewanda terkait dengan cerita rakyat yang dipercaya masyarakat setempat bahwa Goa kreo merupakan petilasan Sunan Kalijaga. Dimana, Sunan Kalijaga mencari kayu jati untuk membangunan Masjid Agung Demak. Saat beristirahat di goa, Sunan Kalijaga didatangi empat kera (rewanda) yang berwarna merah, putih, hitam, dan kuning.

4. Penganten Semarangan
Dimasa lalu Penganten Semarangan disebut Pangeran Kaji karena penganten pria mengenakan surban yang dinamakan ” Kopyah Alfiah” dengan cuncuk mentul satu buah. Sedangakn calon penganten wanita disebut model Encik Semarangan yaitu istilah yang berasal dari perpaduan antara China adan Arab.

5. Gambang Semarangan
Gambang Semarangan adalah salah satu kesenian di Semarang dengan kombinasi antara tari dan musik disertai dengan Gamelan Jawa juga nada-nada diatonis atau nada musik modern. Gambang Semarang telah ada sejak tahun 1930. Kelompok ini terdiri dari penduduk asli dan keturunan Cina. Jenis alat musik adalah kendang, bonang, kempul, gong, seruling, kecrek, gambang.

6. Tari Semarangan
Tari Semarangan merupakan tari klasik dari Kota Semarang yang ditarikan oleh dua orang putri berpasangan. Tarian ini biasa dibawakan dalam event-event Dugderan dan festival budaya lainnya.

7. Wayang Orang
Semarang memiliki kelompok Wayang Orang yang terkenal sejak tahun 1970-an, yaitu kelompok wayang orang tersebut berpindah di Gedung Kesenian Ki Narto Sabdo yang berada di Kompleks Taman Budaya Raden Saleh (TBRS). Beberapa seni dan budaya khas kota Semarang tersebut harus dijaga kelestariannya. Pesan kami kepada seluruh warga kota Semarang terutamanya, supaya selalu menjaga seni dan kebudayaan kota Semarang tercinta ini. Jangan sampai seni dan budaya peninggalan leluhur ini hilah begitu saja atau bahkan diklaim oleh bangsa lain yang sebenarnya tidak berhak memilikinya. Ayo kita bersama-sama memperjuangkan seni dan budaya warisan leluhur kota Semarang ini supaya bisa berkembang dan bisa dikenal oleh dunia pariwisata di dunia. Tentunya kita juga yang bangga jika salah satu kebudayaan Indonesia bisa mendunia.

8. Batik Semarangan
Pada abad ke-18 sampai pertengahan abad ke-19, batik Semarangan pernah mencapai zaman kejayaan karena dipakai semua kalangan, bangsawan maupun rakyat jelata. Berdasarkan buku Selayang Pandang Kota Semarang (2012), kejayaan batik Semarang berakhir setelah meletusnya Gunung Ungaran akhir abad ke-19. Setelah itu batik semarangan tdak banyak lagi dipakai sebagai busana khas.
Batik Semarangan lebih condong pada budaya China, berbeda dengan motif Pekalongan, Surakarta dan Jogja. Jika motif Surakarta dan Jogja lebih kepada motif simbol, norma-norma, dan aturan-aturan di bawah kekuasaan raja. Ciri khas batik Semarangan adalah mengusung motif natural (seperti motif batik pesisir) dan juga ikon Kota Semarang. Seperti Gedung Lawang Sewu, Tugu Muda, dan buah asam. Motif batik semarangan mulai dikenal lagi pada tahun 1980an dan mulai dikembangkan pada tahun 2006 untuk dilakukan pelatihan di Kampung Batik Semarang yang dilakukan oleh Pemerintah Kota.

Fungsi Pendekatan Budaya dalam Pembangunan

Dalam proses pembangunan di Kota Semarang tidak lepas dari sisi pembangunan infrastruktur dan SDM , sehingga kolaborasi dan keseimbangan ini harus dilakukan dalam rangka suksesnya pembangunan di Kota Semarang.

Di Kota Semarang telah diselenggarakan Festifal Budaya Ormas , dengan menampilkan segala potensi ormas dalam hal budaya Nusantara . Guyub rukun dan kebersamaan ini sangat memiliki makna filosofis yang tinggi serta kebersamaan dalam proses pembangunan khususnya membangun kebersamaan dan rasa tanggungjawab bagaimana menjaga situasi kondusif menjelang Pemilu 2024.

Salah satu tujuan diselenggarakan Gelar Festival Budaya Nusantara antar Ormas di Kota Semarang adalah :
1. Mengembangkan dan menjaga tradisi luhur Nusantara di Kota Semarang sebagai bagian dari nguri nguri budaya Nusantara.
2. Bagian dari penguatan Good Talent dengan penguatan bakat dan potensi Seni Budaya antar Ormas di Kota Semarang
3. Meningkatkan kebersamaan dan pembauran antar Ormas di Kota Semarang
4. Menjalin Silaturahmi dan keguyuban di Kota Semarang
5. Memperkokoh nasionalisme dan patriotisme warga Masyarakat Kota Semarang
6. Memberikan sumbangsih kontribusi kekuatan ormas menciptakan suasana kondusif dan kebersamaan untuk Kota Semarang Semakin Hebat

Penutup

Dengan menjaga budaya luhur bangsa dengan mengembangkan Budaya Nusantara di Kota Semarang akan terlahir suasana kondusif dan berkeadaban sehinga proses pembangunan ini akan tertata dengan baik .Keterlibatan masayarakat melalui kekuatan Ormas akan mampu memberikan sumbangsih pembangunan yang [produktif di Kota Semarang.

Menjaga budaya luhur di Kota Semarang dengan pendekatan yang humanis berbasis budaya maka akan dapat mengenalkan nama baik Kota semarang hingga kancah Nasonal bahkan kancah Dunia.

(RED)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *