CitramediNusantara.com
SEMARANG – Suasana ceria dan penuh semangat tampak memenuhi lantai 3 Gedung UMKM Johar Selatan Baru, kawasan Kanjengan, Kauman, Kota Semarang, pada Rabu (5/11/2025). Sebanyak 225 siswa- siswi SMP Negeri 31 Semarang mengikuti Pelatihan Kreasi Limbah Bank Sampah bertema “Lilin Aromaterapi dari Minyak Jelantah”, yang diselenggarakan oleh Lembaga Keterampilan dan Pelatihan (LKP) UMKM Johar Selatan.

Kegiatan ini menjadi wujud inovasi pendidikan yang menggabungkan kreativitas, kepedulian terhadap lingkungan, serta penanaman jiwa kewirausahaan sejak dini. Para siswa diajak memanfaatkan minyak jelantah bekas rumah tangga menjadi lilin aromaterapi ramah lingkungan yang memiliki nilai ekonomis.
“Melalui kegiatan ini, kami ingin anak-anak belajar bahwa sesuatu yang dianggap tidak berguna dapat diolah kembali menjadi produk yang bermanfaat dan bernilai jual,” ujar Aik Solikati, Ketua LKP UMKM Johar Selatan.
Dari pihak sekolah, Winarko, S.Pd, menyampaikan apresiasi dan mendukung penuh kegiatan tersebut karena sejalan dengan misi pendidikan karakter.
“Kami ingin siswa belajar menghargai proses, melatih kesabaran, tanggung jawab, serta kreativitas. Ini bukan sekadar karya, tetapi pembelajaran hidup tentang bagaimana sesuatu yang sederhana bisa menjadi peluang usaha,” terangnya.

Pelatihan ini dibimbing langsung oleh para pelaku UMKM di kawasan Pasar Johar yang berpengalaman dalam kerajinan daur ulang.
Tak hanya fokus pada keterampilan, kegiatan ini juga dibarengi dengan edukasi karakter dan kesehatan. Ketua Lembaga Anti Narkotika (LIN), Hermawan Tri Handoyo, hadir memberikan materi penyuluhan tentang bahaya narkoba, dengan tujuan memberikan pemahaman sejak dini mengenai pentingnya menjauhi penyalahgunaan zat berbahaya.
“Generasi muda harus tumbuh dengan kreativitas dan pemikiran positif, bukan terjerumus pada hal-hal yang merusak masa depan,” tegas Hermawan dalam sesi penyuluhan.
Selain membuat lilin aromaterapi, para siswa juga diajak melakukan tur edukatif ke kawasan Pasar Johar untuk mengenal wajah baru pasar tradisional Semarang yang kini modern, bersih, dan nyaman sebagai ikon kebangkitan UMKM.
Kegiatan ini juga mendapat respons positif dari orang tua siswa. Salah satu wali murid, Ina, mengaku bangga melihat anak-anak dilibatkan dalam aktivitas edukatif dan produktif.
“Daripada hanya bermain gadget, lebih baik mereka belajar menciptakan sesuatu yang bermanfaat dan bernilai. Semoga kegiatan seperti ini rutin diselenggarakan,” ujarnya.
Menutup kegiatan, Aik Solikati menyampaikan harapan agar kolaborasi semacam ini dapat menjadi inspirasi bagi sekolah-sekolah lain.
“Kami ingin anak-anak tumbuh sebagai generasi yang kreatif, berdaya saing, memiliki kepedulian lingkungan, dan cinta terhadap budaya serta lingkungannya,” pungkasnya.
Melalui kolaborasi dunia pendidikan dan UMKM, kegiatan ini membuktikan bahwa perubahan menuju masyarakat yang lebih mandiri dan peduli lingkungan dapat dimulai sejak bangku sekolah.
(Adi)






