CMNnews-INDONESIA
citramedianusantara.com
SEMARANG– Dalam nuansa Syawal yang penuh berkah, keluarga besar almarhum Bapak Supiyan dan almarhumah Ibu Siti Qomariyah menggelar acara halal bihalal yang sarat makna. Bertempat di kediaman salah satu anggota keluarga, momen ini menjadi ajang berkumpulnya para anak, cucu, dan cicit untuk kembali menyulam tali silaturahmi yang mungkin mulai renggang karena jarak dan waktu.

Dipenuhi rasa haru dan tawa yang silih berganti, suasana terasa begitu hangat. Di antara cerita masa kecil, nostalgia masa lalu, dan tanya kabar satu sama lain, hadir pula rasa syukur bahwa keluarga ini masih diberi kesempatan untuk berkumpul dan saling menguatkan.
Rozikin Subastian, anak bungsu dari sembilan bersaudara, menjadi salah satu motor penggerak terselenggaranya acara ini. Dalam sambutannya, ia mengungkapkan pentingnya menjaga kebersamaan sebagai warisan paling berharga dari orang tua mereka.
“Orang tua kita dulu sederhana,Bapak lahir di Desa wedung demak dan ibu Lahir di Kota Bandung ,saya dan kakak lahir di kota Semarang, tapi mereka punya satu kekuatan yang luar biasa: mempersatukan keluarga. Kita punya tanggung jawab untuk meneruskan itu, agar anak-cucu kita tahu siapa keluarganya, dari mana mereka berasal, dan untuk siapa kita semua saling mendoakan,” ucap Rozikin, dengan suara yang sempat bergetar karena haru.
Dari sembilan bersaudara, lima di antaranya kini masih hidup. Nama-nama yang disebut dalam doa bersama sebagai bentuk penghormatan kepada mereka yang telah berpulang di antaranya:
1. (Almh.) Siti Sofiatun
2. (Almh.) Siti Sofiyah
3. Siti Sholekah
4. (Almh.) Siti Kayati
5. Siti Meonah
6. Siti Zulaikah
7. Siti Aminah
8. (Almh.) Siti Romdhonah
9. Rozikin Subastian
Kisah masa lalu pun bermunculan—dari masa kecil yang penuh kesederhanaan hingga perjuangan hidup orang tua yang menjadi panutan. Gelak tawa terdengar saat para cucu mendengar cerita lucu tentang kebiasaan para orang tua mereka dulu. Namun tak sedikit pula mata yang berkaca-kaca, mengenang mereka yang telah lebih dahulu berpulang.
Acara kemudian ditutup dengan makan bersama dan doa yang dipimpin salah satu sesepuh keluarga. Doa itu tak hanya untuk para leluhur, tapi juga untuk keluarga yang masih ada, agar senantiasa diberi kesehatan, keberkahan, dan kekuatan untuk menjaga tali persaudaraan.
Kegiatan ini menjadi pengingat bahwa keluarga adalah rumah pertama, tempat kita kembali, dan tempat kita saling menguatkan. Semangat kebersamaan yang tercipta hari itu menjadi harapan agar tradisi halal bihalal ini tak sekadar menjadi seremoni tahunan, melainkan sebuah budaya yang terus hidup dari generasi ke generasi.
(Red)












