AM Jumai, Sosok Penyejuk yang Menjaga Harmoni di Kota Semarang

Khusus150 Dilihat

CMNnews-INDONESIA
citramedianusantara.com

SEMARANG – Di tengah gemuruh kehidupan kota yang penuh warna dan perbedaan, sosok DR. H. AM Jumai, SE, MM. hadir seperti angin sejuk yang menebarkan semangat persaudaraan dan kedamaian. Sebagai tokoh Muhammadiyah sekaligus anggota Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kota Semarang periode 2020-2025 yang juga sebagai ketua Forum Komunikasi Ormas Semarang Bersatu ( FKSB) Kota semarang, kiprahnya menjadi jembatan yang menghubungkan berbagai umat beragama dalam suasana saling menghormati dan memahami.

Menjalin Dialog, Membangun Kepercayaan

Dalam setiap pertemuan lintas agama, AM Jumai selalu tampil dengan tutur yang tenang dan argumentasi yang meneduhkan. Ia percaya, kerukunan tidak lahir dari keseragaman, melainkan dari kemauan untuk saling mendengar.
“Dialog itu bukan sekadar bicara, tapi tentang membangun kepercayaan,” ujarnya dalam satu kesempatan.

Keterlibatannya di FKUB selama kurun waktu 2020 s/d 2025 bukan hanya formalitas jabatan. Ia hadir sebagai penggerak moderasi beragama, berupaya menjembatani berbagai perbedaan pandangan dengan pendekatan yang lembut, namun tegas dalam prinsip.

Gagasan Moderat yang Menginspirasi

Melalui forum-forum FKUB, AM Jumai kerap menyampaikan pandangan konseptual tentang pentingnya toleransi aktif, yakni bukan hanya hidup berdampingan, tetapi juga bekerja sama untuk kemaslahatan bersama.
Ia menegaskan bahwa keberagaman di Kota Semarang adalah anugerah yang harus dijaga, bukan tantangan yang harus ditakuti. Pandangannya ini menginspirasi banyak tokoh lintas agama untuk lebih terbuka dan menghargai perbedaan.
AM Jumai juga hadir dalam forum forum keagamaan seperti WHDI, GAMKI, PIKI, MUKI, Konghucu /Matakin dan keagamaan lainnya.

Dakwah yang Menyejukkan

Sebagai pimpinan Lembaga Dakwah Komunitas Muhammadiyah di Jawa Tengah, AM Jumai dikenal mempromosikan dakwah yang humanis dan kultural. Ia selalu mengingatkan bahwa dakwah sejati adalah mengajak dengan kasih sayang, bukan menuding dengan kebencian.
Baginya, dakwah harus mampu menjadi jembatan cinta antar manusia. Karena itu, dalam banyak kegiatan, ia mengedepankan pendekatan dialog, budaya, dan keteladanan.
Konsep teologi welas asih yang diajarkan KH Ahmad Dahlan menjadi inspirasinya.

“Dakwah itu soal hati. Kalau hati lembut, kata-kata pun menjadi rahmat,” katanya suatu kali, dengan senyum khasnya yang bersahaja.

Penjaga Kedamaian di Tengah Isu Sensitif

Di saat muncul isu-isu keagamaan yang berpotensi memicu perpecahan, AM Jumai sering tampil sebagai penyejuk dan juru damai. Dengan langkah tenang dan tutur lembut, ia merangkul semua pihak untuk duduk bersama.
Pendekatan persuasifnya membuat banyak persoalan bisa diselesaikan tanpa gejolak. Ia percaya bahwa ukhuwah wathaniyah, persaudaraan kebangsaan ,adalah fondasi yang tak boleh retak, meski ada perbedaan keyakinan.

Sosok yang Mengayomi, Bukan Menggurui

Rekan-rekannya di FKUB dan lintas agama menilai AM Jumai sebagai sosok yang mudah didekati dan tulus mendengarkan. Ia tidak menggurui, tapi mengayomi. Setiap kalimat yang keluar dari lisannya seakan mengandung pesan kebaikan dan ketulusan.
Perannya di FKUB tidak sekadar menjalankan tugas, tetapi menjadi roh yang menghidupkan semangat kerukunan di Semarang.

Meneguhkan Semangat Keindonesiaan

Di mata banyak orang, AM Jumai bukan hanya tokoh agama, tapi juga penjaga semangat kebangsaan.
Ia selalu menegaskan bahwa mencintai Indonesia adalah bagian dari keimanan. Karena itu, menjaga kerukunan berarti juga menjaga keutuhan bangsa.

DR. H. AM Jumai,SE,MM, bukan hanya anggota FKUB Kota Semarang periode 2020-2025. Ia adalah penjaga kesejukan hati, perekat kerukunan, dan peneguh kebangsaan. Dalam dirinya, nilai-nilai keislaman berpadu harmonis dengan semangat kemanusiaan dan cinta tanah air.

(Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *