CMNnews-INDONESIA
citramedianusantara.com
SEMARANG — Peringatan Hari Sumpah Pemuda setiap tanggal 28 Oktober bukan sekadar momen historis, tetapi menjadi refleksi penting tentang sejauh mana semangat persatuan dan tanggung jawab sosial diwarisi serta diwujudkan oleh generasi muda masa kini. Dalam suasana bangsa yang tengah menghadapi berbagai tantangan sosial, hukum, dan moral, Direktur PSHPI (Pengamat Sosial Hukum dan Politik Indonesia), Adi Setijawan, S.H., menyampaikan pandangan kritis sekaligus ajakan moral bagi para pemuda Indonesia untuk kembali meneguhkan komitmen terhadap nilai-nilai kejujuran, persatuan, dan kepedulian terhadap sesama.
Dalam wawancara khusus, Adi Setijawan, S.H. menegaskan bahwa makna Sumpah Pemuda tidak boleh direduksi hanya sebagai peringatan seremonial belaka. Lebih dari itu, Sumpah Pemuda merupakan simbol kesadaran kolektif anak bangsa untuk bersatu demi cita-cita besar: Indonesia yang adil, berdaulat, dan bermartabat.
“Sumpah Pemuda adalah momentum kebangkitan kesadaran nasional. Semangat itu harus terus hidup dan menjadi pedoman bagi generasi muda agar tidak terpecah oleh perbedaan suku, agama, dan pandangan politik,” ujar Adi.
Ia menilai bahwa pemuda hari ini menghadapi tantangan yang berbeda namun tak kalah berat dibandingkan generasi pendahulu. Perkembangan teknologi dan informasi memang membawa kemudahan dan peluang, tetapi juga menghadirkan ancaman berupa degradasi moral, disinformasi, dan polarisasi sosial.
“Banyak anak muda yang sibuk membangun citra digital, tapi lupa membangun karakter. Padahal karakter adalah fondasi dari bangsa yang kuat,” tegasnya.
Dalam konteks sosial dan hukum, Adi menekankan bahwa generasi muda harus memiliki kesadaran hukum dan etika publik yang tinggi. Ketidakpedulian terhadap nilai-nilai hukum dan kebenaran hanya akan melahirkan generasi pragmatis yang mudah dibeli oleh kepentingan sesaat.
“Pemuda harus berani menjadi penegak keadilan di lingkungannya. Jadilah bagian dari solusi, bukan bagian dari masalah. Negara ini tidak hanya butuh orang pintar, tapi juga orang berintegritas,” katanya.
Sebagai Direktur PSHPI, Adi juga menyoroti pentingnya peran pemuda dalam menjaga kesehatan demokrasi. Ia mengingatkan agar pemuda tidak larut dalam euforia politik praktis tanpa arah moral dan idealisme.
“Kritik itu perlu, tapi harus dibarengi dengan solusi. Demokrasi tanpa etika akan kehilangan makna, dan etika tanpa keberanian hanya akan menjadi hiasan kata,” tuturnya.
Adi Setijawan menambahkan bahwa semangat Sumpah Pemuda harus diterjemahkan ke dalam tindakan nyata: bekerja keras, peduli pada lingkungan, aktif di kegiatan sosial, dan berani menyuarakan keadilan.
“Perubahan tidak selalu dimulai dari hal besar. Justru dari tindakan kecil yang konsisten, seperti jujur, disiplin, dan peduli sesama, di situlah nilai Sumpah Pemuda sesungguhnya hidup,” tambahnya.
Menutup pesannya, Adi mengajak seluruh pemuda Indonesia untuk tidak kehilangan arah perjuangan. Ia mengingatkan bahwa kemerdekaan dan kemajuan bangsa hanya bisa dijaga oleh generasi yang mau berjuang dan berkorban.
“Bangkitlah pemuda Indonesia! Jadilah generasi yang berpikir kritis, berjiwa nasionalis, beretika, dan berkeadilan sosial. Sumpah Pemuda bukan hanya kenangan sejarah, tapi panggilan moral untuk menjaga dan meneruskan cita-cita bangsa,” pungkasnya.
Tentang PSHPI
PSHPI (Pengamat Sosial Hukum dan Politik Indonesia) adalah lembaga kajian independen yang fokus pada analisis sosial, hukum, dan politik nasional. PSHPI berkomitmen mendorong terwujudnya masyarakat yang adil, demokratis, dan berintegritas melalui riset, pendidikan publik, serta advokasi kebijakan berbasis nilai-nilai moral dan kebangsaan.
(Red)






