Citramedinusantara.com
SEMARANG- Suasana riuh ceria terasa di lantai 3 Gedung UMKM Johar Selatan Baru, kawasan Kanjengan, Kauman, Kota Semarang, pada Rabu (19/11/2025). Sebanyak 285 siswa SMP Negeri 32 Semarang tampak antusias mengikuti kegiatan Pelatihan Keterampilan Mencanting dan Mewarnai Batik yang diselenggarakan oleh Lembaga Keterampilan dan Pelatihan (LKP) UMKM Johar Selatan.

Dengan semangat tinggi, para siswa belajar menggunakan canting, menorehkan malam cair di atas kain, hingga menghasilkan motif Warak Ngendog, ikon khas Kota Semarang yang sarat makna budaya dan menjadi simbol akulturasi antara Jawa, Arab, dan Tionghoa.
Kegiatan ini merupakan bagian dari program pendidikan non-formal yang bertujuan menumbuhkan kreativitas, memperkenalkan nilai-nilai budaya, sekaligus menanamkan semangat kewirausahaan sejak usia dini.
“Melalui kegiatan ini, kami ingin anak-anak belajar bukan hanya teori di kelas, tetapi juga praktik nyata yang menggugah rasa bangga terhadap budaya sendiri,” ujar Aik Solikati, Ketua LKP UMKM Johar Selatan, saat ditemui di sela kegiatan.
Mengenal Budaya Lewat Karya
Dalam pelatihan tersebut, para siswa diajarkan mengenal berbagai jenis kain batik, macam-macam canting, bahan pencantingan, serta teknik pewarnaan batik. Hasil karya mereka dituangkan pada tote bag yang sudah didesain sebelumnya.
“Motif Warak Ngendog kami pilih karena memiliki filosofi yang kuat tentang persatuan dalam keberagaman. Anak-anak bisa belajar bahwa budaya lokal adalah jati diri yang harus dijaga,” tambah Aik.
Program ini juga merupakan hasil kerja sama dengan pihak sekolah, yang diberikan kebebasan untuk memilih jenis pelatihan sesuai kebutuhan. Dari 15 jenis pelatihan yang ditawarkan, SMP Negeri 32 Semarang memilih membatik karena dinilai paling relevan untuk menggabungkan unsur seni, budaya, dan pendidikan karakter.
“Batik adalah jati diri bangsa. Kami ingin siswa belajar menghargai proses, melatih kesabaran, ketelitian, dan tanggung jawab melalui seni mencanting,” ujar Rahmita Wardiyani Putri, S.S, Wakil Kepala sekolah SMP N 32 yang sekaligus membuka kegiatan secara resmi.
Mendukung Pendidikan Karakter dan Kewirausahaan Sejak Dini
LKP UMKM Johar Selatan sendiri telah beroperasi selama lebih dari dua setengah tahun dan konsisten mendorong pengembangan keterampilan masyarakat di berbagai bidang, seperti kuliner, kerajinan, daur ulang limbah jelantah, ecoprinting, hingga fashion.
“Tujuan kami bukan sekadar memberi pelatihan teknis, tapi membangun karakter kreatif dan mandiri sejak dini. Kami ingin anak-anak mengenal konsep wirausaha sederhana, bahwa karya mereka bisa bernilai ekonomi,” jelas Aik.
Para mentor yang mendampingi kegiatan ini merupakan pelaku UMKM aktif di Pasar Johar, yang telah berpengalaman di bidang kerajinan dan seni batik. Selain pelatihan, peserta juga diajak tour edukatif ke Pasar Johar untuk mengenal langsung dinamika ekonomi lokal dan melihat wajah baru pasar tradisional yang kini tampil lebih modern, bersih, dan tertata.
“Kami ingin mengubah cara pandang anak-anak tentang pasar. Sekarang Pasar Johar sudah rapi dan bersih, bahkan dilengkapi dengan fasilitas seperti lift. Ini bagian dari upaya kami menanamkan kecintaan terhadap ekonomi lokal,” ujarnya.
Kegiatan ini mendapat sambutan hangat dari para Guru Pembimbing orang siswa, mengaku sangat mendukung program positif ini.
“Saya sangat mengapresiasi kegiatan seperti ini. Anak-anak tidak hanya belajar membatik, tapi juga belajar menghargai budaya dan hasil karya sendiri. Melihat para siswa pulang membawa tote bag hasil karyanya sendiri, rasanya luar biasa. Semoga kegiatan seperti ini bisa rutin diadakan,” ungkapnya penuh semangat.
Ia juga menambahkan, pelatihan semacam ini membantu anak-anak untuk mengisi waktu dengan kegiatan positif dan kreatif. “Daripada hanya bermain gadget, lebih baik mereka diajak mencipta sesuatu yang bermanfaat dan membanggakan,” tambahnya.
Menanamkan Cinta Budaya Sejak Dini
Menutup kegiatan, Aik Solikati menyampaikan harapan besar agar pelatihan ini dapat menjadi inspirasi bagi sekolah-sekolah lain di Semarang.
“Kami ingin anak-anak punya warna baru dalam belajar, tidak hanya fokus pada akademik, tetapi juga memiliki keterampilan hidup, rasa percaya diri, dan cinta terhadap kebudayaan kotanya sendiri,” pungkasnya.
Dengan semangat kolaboratif antara dunia pendidikan dan pelaku UMKM, pelatihan membatik ini menjadi bukti bahwa pembentukan karakter, kreativitas, dan kecintaan terhadap budaya lokal bisa tumbuh sejak dini, dari tangan-tangan kecil yang mulai belajar mencintai warisan bangsanya.
(Red)






