CMNnews-INDONESIA
Semarang – Bulan suci Ramadhan menjadi momentum penting untuk memperkuat nilai spiritual sekaligus kepedulian sosial dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Ketua Umum Pengamat Sosial Hukum dan Politik Indonesia (PSHPI), Adi Setijawan, SH, menilai Ramadan bukan hanya dimaknai sebagai ibadah ritual, tetapi juga sebagai ruang introspeksi diri dan perbaikan moral kolektif.
Menurutnya, Ramadan ibarat siraman air yang menyejukkan, memberikan kesempatan bagi setiap pribadi untuk menata kembali sikap, memperkuat kejujuran, serta menumbuhkan empati terhadap sesama, khususnya kepada masyarakat yang membutuhkan perhatian.
“Ramadan adalah waktu yang tepat untuk merenung. Tidak hanya individu, tetapi juga seluruh elemen bangsa, termasuk penyelenggara negara, harus melakukan evaluasi diri agar lebih peka terhadap kondisi rakyat,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa semangat Ramadan seharusnya tercermin dalam kebijakan publik. Negara, kata dia, wajib hadir dan berpihak kepada rakyat dengan memastikan keadilan sosial, perlindungan hukum, serta pemerataan kesejahteraan.
“Negara harus menempatkan masyarakat sebagai prioritas utama. Kebijakan yang lahir harus berorientasi pada kesejahteraan rakyat, bukan semata kepentingan administratif atau kelompok tertentu,” tegas Adi.
Ketua Umum PSHPI berharap nilai-nilai Ramadan mampu menjadi energi moral bagi pemerintah dan masyarakat untuk bersama-sama membangun kehidupan yang lebih adil, humanis, dan berkeadaban, sehingga tujuan kesejahteraan sosial benar-benar dapat dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat.
(RED)






